Menurut penuturan Catur Warna, beliau memiliki kisah dari KH Solahudin Wahid sebagai berikut:
“Syahdan. Di Tebuireng, dulu ada sosok Kyai Idris Kamali yang sangat dihormati masyarakat.
Tak hanya masyarakat sekitar Tebuireng, bahkan mantan presiden RI ke dua pun sempat menyambangi
kediaman beliau. Menurut cerita, Kyai Idris hanya menerima santri yang
ia tes sendiri, kurang lebih sekitar 15 orang. Santri-santri lolos seleksi dibiayainya. Kyai
Tolchah Hasan (Menteri Agama era Gus Dur), merupakan salah satu santrinya. Dari
bawah kasurnya, Kyai Idris mengambil uang, membantu siapa saja yang
membutuhkan.
Menurut cerita Kyai Tolchah Hasan; suatu hari ia diberi tugas membersihkan
kamar Kyai Idris. Penasaran ingin mengetahui seberapa banyak uang sang Guru, ia
memasukkan tangan ke bawah kasur. Ia tak menemukan adanya uang. Karena
rasa ingin tahu Talchah Hasan yang tinggi, ia mengangkat kasur gurunya dan,
ternyata tak sepeserpun ia temukan.
Kyai Tolchah
merasa bingung. Sebab, Kyai
Idris tinggal di kamar samping masjid. Tak pernah keluar kamar, kecuali ke
masjid. Yang membuat Tolchah bingung, tiap ada orang yang membutuhkan uang,
Kyai Idris selalu punya.
Dugaan Tolchah, uang itu ada secara tiba-tiba.
Pada tahun 1970-an, Pak Harto datang ke
Tebuireng. Kyai Idris tak menemuinyakarena sedang mengajar. Beliau tetap mengajar santri-santrinya hingga selesai.Satu waktu, para santri
ingin belajar Ihya Ulumuddin. Sang Kyai tak berani langsung mengajar, Meski
sudah berkali-kali membaca dan mengajarkan kitab tersebut. Sebelum mengajar,
beliau melaksanakan shalat hajat, meminta izin kepada empunya kitab (Imam
Ghazali). Setelah shalat beberapa minggu, suatu malam Kyai Idris bermimpi, beliau bertemu Imam Ghazali.
Singkat cerita, beliau memperoleh izin dan, besoknya baru mengajarkan kitab
tersebut kepada para santri.
Sebagai Kyai kampung, beliau memiliki
kambing. Kemana pun kambing itu pergi, tak ada yang mengganggu. Bahkan naik
kereta api pun diizinkan kondektur. Suatu hari kambing itu dicuri orang.
Si pencuri menjualnya ke pasar. Masyarakat curiga itu kambing milik Kyai Idris. Tak satu pun orang yang mau membelinya.
Akhirnya sipencuri mengembalikan
kambing kepada pemiliknya.
Tahu bahwa pencuri itu sedang kesulitan uang,
sang Kyai memberikan kepadanya. Berita tersebut, secepat cahaya menyebar ke seluruh penjuru Tebuireng.Mengetahui hal tersebut, masyarakat berduyun-duyun, berebutan untuk membeli
kambing yang diberikan sang Kyai.
***
Di Cihadu, Pandegelang, dulu ada sosok Mbah
Dimyati. Suatu saat, Pak Habibie menyempatkan diri sowan ke rumah beliau. Saat itu beliau sedang
wiridan (baca:membaca dzikir).
Terpaksa mantan presiden RI ke
tiga ini harus menunggu lama. Setelah berbincang-bincang, presiden pamit dan menyampaikan sumbangan
cukup besar untuk pesantren. Ternyata, sumbangan tersebut ditolak secara
halus oleh Mbah Dimyati. Kyai seperti inilah yang mungkin diberi ilmu [laduni].
Walau tidak banyak, masih ada kyai semacam itu.
Umumnya, mereka tidak banyak dikenal. Karena
memang tidak ingin terkenal. Kyai Idris dan Mbah Dimyati adalah dua sosok ulama pewaris nabi yang
sebenarnya.Mereka sudah tak peduli masalah dunia. Yang ada hanya shalat,
membaca ayat Tuhan dan, mengajar. Tak ada yang mereka takuti kecuali yang Maha Hidup. Doa-doa
kyai yang bersih jiwanya itulah yang masih menolong Indonesia, tulis Gus Sholah
menutup kisahnya.”
Ciputat, 11 Februari 2012
Catur Warna
NB: Tweet Gus Sholah di
atas telah sedikit dimodifikasi penulis dengan maksud agar lebih terstruktur.
Sedikit pun tak ada tujuan untuk mengurangi isi yang disampaikan Gus Sholah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar